Suasana di atas arena kematian semakin memanas. Teriakan penonton menggema tiada henti, memuncak dalam euforia melihat keganasan jagoan mereka, Grakkon, mengamuk tanpa ampun.

Di salah satu sudut tribun, Lynx berdiri diam. Tatapannya tajam, tak berkedip, mengikuti setiap gerakan Leena dan monster hijau yang kini menjadi lawannya.

Ketika Leena tertangkap dan dibanting oleh Grakkon, sorot mata Lynx mengeras. Rahangnya mengatup, jemarinya mengepal kuat. Keinginannya untuk melompat ke arena dan menarik Leena keluar begitu kuat, namun dia menahan diri. Ia dapat merasakan dengan jelas—aliran qi spiritual Leena meningkat tajam. Ia tahu, itu tanda Leena mulai serius.

Lynx tersenyum, dia bisa merasakan Leena mendapatkan anugerah dari serangan keras yang dia alami. Kekuatannya meningkat drastis, namun dibalik kebahagiaan tersebut, Lynx juga merasakan khawatir.

"Aku harus waspada, jangan sampai petir kesengsaraan turun ke arena ini dan melukai orang-orang tidak bersalah." Batin Lynx.

Lynx berkonsentrasi merasakan perubahan alam di langit namun tidak ada sesuatu yang terjadi. "Mungkinkah petir kesengsaraan tidak ada di dunia ini karena minimnya qi spiritual?"

Setelah berpikir sejenak, "Mungkin Leena akan menghadapinya setelah kembali nanti ke kota Zhurong."

Lynx lalu memperhatikan sosok Grakkon yang terlihat mulai waspada dan menatap ke arah lubang dimana Leena di lemparkannya.

"Tubuhnya… bukan makhluk biasa," batinnya. "Dia tak punya qi spiritual seperti kultivator lain… tapi massa ototnya, kecepatan respons saraf, ketahanan jaringan, semua berada jauh di atas standar manusia biasa. Bahkan immortal pun belum tentu bisa mengalahkannya dengan mudah. Kecepatannya… Leena bisa menahannya untuk sementara waktu dengan kecepatan yang dimilikinya."

Namun kecemasan tetap menggantung di dalam dadanya.

Lynx mengalihkan pandangannya sejenak, menatap ke arah ruangan tempat Isha dikurung. Wajahnya kembali dingin.

"Aku harus fokus. Selamatkan Isha lebih dulu. Setelah itu, kita harus pergi dari tempat ini sebelum semuanya memburuk. Leena... aku percaya kau bisa bertahan."

***

"Aku... tak lihat dia keluar... Dia pasti sudah habis," gumam seorang penonton yang mencoba mencari sosok Leena yang tertutup debu berterbangan.

"Apa kamu bodoh? Mana mungkin wanita selemah itu bisa bertahan dengan serangan Grakkon yang ganas." Penonton di sebelahnya menyahuti.

Namun...

Sebuah suara lembut terdengar dari balik puing dan asap.

Tap. Tap.

Langkah ringan bergema di tengah keheningan mendadak. Asap perlahan tersibak.

Leena muncul, tubuhnya tertutup lapisan tipis qi berkilau samar. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, tapi sorot matanya tajam dan tak bergeming. Rambutnya yang semula terikat kini sedikit terurai, berayun pelan dihembus angin.

"Tidak buruk... Grakkon," ucapnya pelan, suara setenang bayangan malam. Angin di sekitarnya mulai bergetar halus, seperti merespons kekuatan yang ia bangkitkan.

Penonton terdiam sejenak.

"…Dia... masih bisa berdiri?!"

"Dia selamat dari serangan Grakkon?"

"Astaga... wanita itu... apa dia masih manusia?"

"Kenapa aku merasakan ada yang berbeda dari wanita itu? Dia terlihat berbeda dengan sebelumnya?"

Grakkon menatapnya, sejenak terdiam. Mata merahnya menyala lebih terang, otot-ototnya menegang, napasnya makin berat. Ia menggeram pelan, tak menyangka mangsanya masih bisa berdiri.

Dan arena...

Kembali dipenuhi dengan tensi mematikan.

***

Lynx menoleh ke sisi lain, memandangi dinding belakang tribun tempat pintu akses keamanan berada.

Sejak sebelum pertandingan dimulai, ia sudah mempelajari struktur tempat ini, menandai satu lokasi tersembunyi yang cukup aman untuk menyembunyikan Isha sementara waktu. Ia tak bisa menggunakan portal teleportasi untuk membawanya pergi terlalu jauh, membuat portal butuh waktu, dan ia tidak ingin menimbulkan kegaduhan yang akan mengganggu fokus Leena dalam bertarung.

Dalam satu gerakan halus, ia berdiri dan melepas gelang identitas, menjatuhkannya ke lantai agar tidak terdeteksi gerakannya oleh sensor. Tubuhnya lenyap dari pandangan, seolah menguap bersama udara.

Di lorong penjaga, dentuman mengguncang bangunan. Pintu baja anti-ledakan terbelah dua, terlempar ke dinding seperti dilempar angin ribut. Lynx melangkah masuk, tak mengeluarkan suara sedikit pun.

Isha duduk terikat di kursi, dikelilingi beberapa orang asing yang tak dikenalnya, didekatnya terdapat Sara dan Eliza yang sedang bersama seorang pria. Tanpa basa-basi, ia meraih gadis itu, membebaskannya, lalu menghilang dalam satu gerakan.

Tubuhnya melesat seperti bayangan. Tak satu pun sensor keamanan di seluruh bangunan yang mampu menangkap kehadirannya. Dalam hitungan detik, ia sudah berada jauh dari bangunan, berlari menuju sebuah gudang kosong yang ia rasa aman dan tak terjaga.

"…Aman," gumamnya lirih. Ia meletakkan Isha dengan hati-hati, lalu kembali.

Satu lompatan membawa Lynx kembali ke tribun. Ia duduk tenang di tempat semula, wajahnya tak berubah sedikit pun, seolah tak pernah bergerak. Semua itu dilakukan dalam waktu kurang dari tiga detik.

Dan tatapannya kembali mengarah pada Leena yang sedang bersiap bertarung.

***

Di ruang pusat pengawasan, sebuah dentuman tiba-tiba mengguncang ruangan. Pintu logam setebal tiga inci terlepas dari engselnya dan menancap di dinding hanya beberapa langkah dari tempat duduk sang pemimpin The Circuit.

Tubuh besar pimpinan itu menegang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski ia berusaha tetap duduk tegak.

"Pimpinan, apa yang terjadi?" tanya Sara gugup, matanya menyapu ruangan dengan panik.

"Tidak mungkin... siapa yang berani melakukan ini?" desis Eliza. Wajahnya pucat pasi, pintu itu hampir menghantamnya.

Pimpinan The Circuit memandangi orang-orang di ruangan. Semua anggota elite berkumpul di sini, termasuk dua petarung utama arena kematian.

Sosok besar Rhaegor melangkah mendekat. Tubuhnya seperti logam biru gelap, tanpa wajah, dengan postur humanoid dan suara langkah yang mengguncang lantai. Ia mencabut pintu baja dari dinding seolah hanya menarik sehelai kain, lalu memeriksanya dengan mata kosong.

"Menarik," gumamnya.

"Apa maksudmu?" suara pimpinan terdengar dingin, penuh tekanan. "Apa kamu tahu siapa yang menanam peledak di dalamnya?"

Rhaegor tidak menjawab. Ia melempar pintu itu ke arah satu sosok tinggi lain, Vaelzorr, yang berdiri tak jauh. Tubuh Vaelzorr gelap seperti obsidian mengilap, dengan garis merah menyala yang berdenyut mengikuti aliran darahnya. Ia menangkap pintu itu dengan satu tangan, matanya menyipit saat memeriksa.

"Ini bukan karena peledak," ujarnya tenang. "Pintunya dihancurkan oleh pukulan."

"Pukulan?" Eliza menggeleng tak percaya. "Itu mustahil. Kita semua ada di sini. Tidak ada yang masuk, dan tidak ada alarm berbunyi."

"Lalu ke mana perginya anak kecil yang bersamamu?" suara Vaelzorr menembus udara dingin ruangan. Matanya menatap lurus ke arah Sara.

"Apa?" Sara dan yang lainnya segera memandang kearah anak kecil sebelumnya terikat. Namun kini tidak terlihat lagi di tempat tersebut. Keterkejutan melanda mereka semua.

"Siapapun dia," gumam Rhaegor, "dia cukup cepat untuk menembus tempat ini tanpa terdeteksi oleh kita semua."

"Tapi cepat saja tak cukup," lanjutnya. "Tanpa kekuatan, kecepatan hanyalah ilusi. Didepan kekuatan mutlak, kecepatannya tidak berguna." kata Rhaegor dengan nada percaya diri sambil mengepalkan tinjunya. Baginya, menghancurkan pintu seperti ini sangat mudah.

Berbeda dengan Rhaegor dan Vaelzorr yang terlihat tenang, Sara mulai panik. Ia sadar, jika orang itu menginginkannya mati, ia takkan sempat bergerak.

"Periksa rekaman," ujar pimpinan dingin.

Eliza segera membuka monitor pengawas dan memutar ulang rekaman dari ruangan tempat Isha berada. Tak ada tanda-tanda ledakan, tak ada tanda-tanda pelanggaran sistem. Pintu itu tiba-tiba saja... hilang.

Ia mengulang tayangan, lalu memperbesar gambar di tribun. Fokusnya mengarah pada seorang pria.

"Lynx," gumamnya.

"Kita sudah mengidentifikasinya sejak awal. Sistem mengenali wajahnya dan Leena saat mereka masuk," jelas Eliza. Sejak awal mereka sudah mengetahui keberadaan Lynx yang membaur dengan penonton. Menggunakan teknologi canggih, Eliza sudah mendaftarkan wajah Lynx dan Leena sehingga saat Lynx dan Leena tiba, seluruh kamera sudah mengidentifikasinya.

"Dia tak tampak mencurigakan," kata salah satu pemimpin regu. "Tak ada gerakan yang mencolok."

"Tunggu," Vaelzorr mendekat. Matanya menyipit, menatap layar monitor.

"Putar ulang detik ini... Lihat. Hanya sedetik... tapi pria itu, menghilang."

"Tidak mungkin. Tak ada teknologi atau manusia bisa secepat itu," sanggah Eliza, meski suaranya mulai goyah.

Pimpinan The Circuit bangkit dari kursinya. Tatapannya tajam menusuk monitor.

"Hanya ada satu cara untuk menguji kemampuannya," katanya pelan.

"Kalian majulah. Dengan lima petarung utama maju untuk melawan wanita itu. Aku ingin tahu... apakah pria itu akan tetap duduk diam."

